Posted by: blogiwan | 21 June 2013

Reality is not reality , Perception is reality

Tadinya saya mau menulis tentang apa yang kita bayar dari secangkir 

Starbucks Coffee, tetapi mood saya pada marketing sudah menipis …

hemmm.. jadi saya ganti .

 

Orang ribut tentang kenaikan BBM dan BALSEM kenapa ????

Padahal bukan hanya BBM yang naik akhir-akhir ini misal : tiket Kereta Api Jawa ,tarip PLN, Komuter line dll.

 

Kenaikan harga tiket kereta api tidak menimbulkan keributan boleh jadi karena caranya yang berbeda. Bukan naik tapi produk yang lama (KA Ekonomi) sudah tidak ada lagi diganti produk baru (KA Ekonomi AC). Atau bisa juga karena memang kemampuan konsumen sebenarnya sudah mampu dengan harga yang baru saat ini. 

 

Pun dengan PLN kenapa tidak ada yang ribut ? Kenaikan tarif PLN tidak langsung drastis  tapi sedikit-sedikit tiap tiga bulan. Dan untuk golongan 450VA dan 900VA tidak naik, artinya untuk kelas konsumen kurang mampu tidak ada kenaikan. Sekali lagi ternyata caranya yang berbeda.

 

Masih banyak contoh lain barangkali tetapi dua contoh diatas menurut saya sudah cukup mewakili. Lalu pertanyaannya “Kenapa BBM naik tidak dengan cara-cara seperti itu ?”

  • Produk lama (premium) sudah tidak ada lagi. Masalahnya mungkin jarak harga antara Premium dan Pertamax terlalu jauh (Rp 4.500 vs Rp 9.500). Kalau ini masalahnya ya sudah silahkan bikin produk baru Pertamin misalnya, dengan harag Rp 6.500. 
  • Harga naik periodikal misal tiap 6 bulan. Mungkin masalahnya adalalah sulit kontrol spekulan tapi menurut saya itu bukan masalah. Kalaupun itu dipermasalahkan , mestinya itu yang dicari jalan keluar bukan menunda kenaikan.

Kenaikan harga BBM menimbulkan gelombang inflasi , ya.. itu pasti . Karena sebagian besar produk ,Energi menjadi kebutuhan baik pada phase produksi maupun pada phase distribusi. 

 

Reality is not reality , perception is reality

Dimana nyambungnya yaaa… 

Masalah pada inflasi menjadi lebih besar karena hitungannya buakn dengan hitungan pasti matetamtis tapi dengan persepsi.

 

Dan anehnya lagi perubahan harga ini menjadi bahan pihak ketiga –saya sebut pihak ketiga karena tidak bagian dari penjual,produk atau konsumen– untuk membuat persepsi masyarakat seolaholah ada yang menyengsarakan dan ada yang membela. Padalah itu tidak terjadi pada Tarif KA dan PLN.

Copy dari tulisan kakak saya di fb


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: