Posted by: blogiwan | 21 June 2013

Lelaki Berhati Cahaya

Peter lelaki berhati cahaya itu sedang berbunga-bunga hatinya. Setelah menempuh pendadaran yang mendebarkan dan revisi2 yang memakan hati selama 2 bulan penuh kini ia mantaf mengambil sebuah formulir nan sakral berjudul “Pendaftaran Wisuda”. Duhai betapa tidak bisa dipungkiri ia hampir saja menitikkan air mata, mengenang 5 tahun lalu ia berada di kantor ini, di loket yang sama, dilayani seorang ibu paruh baya yang sama bahkan rasanya pada jam yang sama untuk mengambil formulir yang sama sekali berbeda dengan yang sekarang telah ditangannya, itulah saat ia regitrasi masuk kampus paling bergengsi di kota gudeg itu. Setelah mengisi semua kotak isian iapun merekatkan 5 pasfoto berwarna dengan background merah di kotak paling bawah. Pada bagian ini ia tertegun sejenak melihat fotonya sendiri. Kembali pikirannya melayang pada sebuah sketsa 5 tahun lalu, saat itu iapun menempelkan pasfoto 5 lembar di formulir registrasi, tapi itulah bedanya, 5 tahun lalu ibu paruh baya pegawai skretariat ini yang tertegun sejenak melihat fotonya. Barangkali ia tak yakin anak semuda dia registrasi menjadi mahasiswa sementara facenya masih culun dan menggemaskan. Kini 5 foto itu menunjukkan gurat lelaki yang beranjak dewasa. Bahkan meski telah dicukur rapi tampak jelas gurat kumisnya.

 

Setelah ia lampirkan transkrip nilai terakhir, keterangan hasil sidang, surat bebas pustaka dan kwitansi pembayaran wisuda formulir pendaftaran wisuda itupun ia sodorkan ke lubang loket didepannya. Ibu paruh baya itu menerima lalu memeriksa sejenak, lantas ia tersenyum pada Peter dan berpesan :

 

“Tanggal 20 kesini lagi ya Dik, ngambil toga dan undangan pendamping wisuda”

“Iya bu makasih”

 

Ia melangkah meninggalkan kantor sekretariat FISIP UGM setelah mengedarkan pandangan sejenak ke sekeliling,  berharap bertemu teman seangkatan melakukan hal yang sama. Nihil tak ada satupun yang ia kenal, kalaupun ada yang daftar wisuda kebanyakan adalah adik tingkat yang jarang ia kenal. Ia bergegas ke tempat yang sudah ia rencanakan, Masjid Al Fath. Ia tumpahkan segala kesyukuran disana. Setelah menunaikan 4 rekaat dhuha, ia bersimpuh menengadah mengucap tasbih dan tahmid tiada henti. Air matanya menitik lalu tak terbendung dan mengalir deras. 5 tahun kuliah yang ia lalui menjelma menjadi sketsa-sketsa pendek dengan macam setting, tokoh dan peran berganti-ganti. Ia tahu betul bagi sebagian orang seperti dia kegembiraan dan sukacita menjadi mahasiswa sebenarnya hanya terjadi di tahun pertama. Tahun kedua dan seterusnya adalah tahun perjuangan dan pergulatan hidup yang lebih banyak dukanya daripada sukanya. Segala kepahitan dan kegetiran hidup yang menggiriskan hati pernah ia alami. Pernah ia kelaparan dan seharian hanya minum air putih karena tak punya uang sepeserpun. Belum lagi cerita khas mahasiswa tiap hari makan mie instan iapun pernah mengalami sampai akhirnya terkapar oleh Salmonella Thyposa. Ia juga tak mungkin lupa masa-masa ia memanggul beras kepada warung-warung langganannya tanpa malu disela-sela kuliah. Ia bahkan sering menerima order permintaan beras segera padahal sedang mengikuti kuliah Profesor idolanya. Belakangan baru saya tahu saat itu dia butuh banyak uang karena menghilangkan kamera temannya.

 

Keluar dari masjid Peter sudah punya rencananya berikutnya, pulang. Ia rindu sekali dengan ibunya. Kadang ia bertanya apakah semua anak manusia di dunia ini berpikir yang sama bahwa ibu adalah manusia terhebat? Ia merasa ibunya adalah orang terhebat. Hanya ibunya yang bisa memaklumi dan memahami kemaluan, emm maksud saya sifat Peter yang pemalu. Ibunya juga yang selalu berkomentar dia tambah gemuk, tambah kurus atau tambah ganteng. Yang terakhir ini tentu saja dusta yang dihalalkan. Ibunya yang selalu membuat masakan istimewa tiap dia pulang padahal ia tahu saat tak ada dirinya Ibunya masak ala kadarnya untuk makan berdua dengan Bapaknya. Bagi seorang Ibu dimana saja di dunia ini kebahagiaan anak adalah segalanya. Peter barangkali tak tahu setiap dia dirumah yang tak pernah lebih dari 3 hari itu sebenarnya Ibunya berharap ia menghabiskan waktu dirumah. Bagi seorang ibu menatap anaknya sudah lebih dari cukup untuk mengobati rindu. Bahkan seandainya Peter Cuma bermalas-malasan di rumahpun tak apa. Tapi begitulah Peter, kepulangan yang jarang-jarang itupun ia pakai untuk bermacam kegiatan di kota. Sehingga ia hanya menyisakan malam untuk istirahat di rumah. Ia tidak tahu dikala ia sudah larut dalam mimpi itu ibunya sering membuka pintu perlahan, menatap wajahnya yang pulas dari sela pintu yang terbuka. Ibunya bahkan tak berani masuk karena khawatir mengusik tidurnya. Ah dimana-mana Ibu memang hebat!

 

Keesokan paginya setelah menghabiskan sarapan istimewa bikinan Ibu paling istimewa ia membuka pembicaraan dengan hati-hati. Ia ingin mengutarakan sesuatu yang sudah sejak setengah tahun lalu ia pendam.

“Mas bentar lagi sarjana ya Bu?”

“Yo alhamdulillah, bue seneng akhirnya kowe lulus juga”

“Setelah wisuda ngopo yo Buk?”

“Yo cari kerja, kalau perlu nglamar PNS biar kerja enak seperti mbak Um itu lho”

“Ogah bu PNS sekarang kudu nyogok, haram Bu haram”

“Wes ta lah yang penting kan kerjanya enak, dapat pensiun”

“Emang Ibu mau cucu ibu nanti disuapi makanan haram?”

Ibunya menarik nafas sejenak. Tak bisa berkata-kata dan diam-diam membenarkan anaknya. Tiba-tiba Peter seperti mendapat momen yang pas untuk menyatakan maksdunya.

“O iya bu, Ibu ga pengen nimang cucu?, lama sekali ya Bu kita Cuma hidup berempat, Bapak, Ibu, Mas dan Adek..sepi banget rasanya rumah ini”

“Kowe ki to le, kowe kan laki-laki dan anak laki-laki ibu satu-satunya, mbok jangan buru-buru nikah, paling ngga tunggu adikmu lulus dulu, ibu ini pengennya malah adekmu itu yang nikah dulu, dia kan cewe”

“Ya udah Bu adek dinikahin aja, habis itu mas nikah beres kan?”

“Woooo bocah ki, adekmu tu belum lulus yo”

“Emang sejak kapan nikah mesti nunggu lulus bu?”

“Hah Ibu ga mau berdebat pokoknya Ibu ga mau kowe nikah sekarang, tunggu adekmu lulus,, wis”

 

Peter menghela nafas panjang. Ia sudah KO di ronde pertama. Ia juga tak tega berdebat lebih lanjut, ia khawatir hati Ibunya terluka. Mungkin ia harus mencari momen yang tepat lain waktu. Sejurus kemudian tiba-tiba Ibunya menoleh dan menatap tajam padanya.

“Lagipula orang tua mana yang mau menikahkan anaknya dengan sarjana belum punya kerjaan tetap koyo kowe? Orang masihn lontang-lantung ra genah kok jaluk kawin”

Kali ini Peter bukan hanya KO. Ia terlempar keluar ring, tubuhnya terkapar dan nafasnya tersengal-sengal. Mata berkunang dan tubuhnya mati rasa. Ia pingsan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: